PTTA itu singkatan dari Pentas Tutup Tahun Ajaran di SMA ku tercinta.
Ada sedikit perjuangan buat ikut acara ini.
Dari awal aku keterima jalur SNMPTN Undangan di ITB aku udah sadar, bahwa kemungkinan terbesar aku nggak bisa ikut PTTA. Ini salah satu sisi negatif keterima Undangan ITB.
Tapi kami (aku dan temen temen Padmanaba di ITB) nggak mau terima kenyataan gitu aja.
Hari kedua kita masuk matrikulasi (Selasa 28 Juni), kita ijin ke LTPB buat nggak ikut matrikulasi tanggal 8 juli (hari PTTA dan tepat di tengah tengah matrikulasi). Kenapa ijinya baru hari kedua?
Karena di hari pertama, belum secara resmi masuk area kampus, masih di gedung Sabuga, dan di hari pertama lah (sore gitu) kami tau kalau ijin itu ke bagian LTPB di lantai 2 perpustakaan utama. Secara, aku pulang jam 5 an, tepar abis lah,jalan keliling kampus gitu.
Hari kedua, anak anak Kupad (Suku Padmanaba – sebutan untuk padmanaba di Bandung) 66 jadwalnya nggak sama. Beda beda tiap fakultas. Aku dan temen STEI (dini dan nabila) dapet kelas jam 8-12. Sedangkan SAPPK(najma) FTI(nevi) dan FTMD(Gesa) dapet kelas jam 13-17. Jadinya yang ke LTPB yang kelas pagi, aku, nabila, dan dini. Kita cengok abis waktu di dalem perpus, wuih ada mac store. Kita naik ke LTPB, dan staff disitu bilang kalau yang ngurus perijinan matrikulasi pergi, balik lagi sekitar setengah tiga. Kita nunggu deh dua setengah jam-an. Masuk perpus untuk pertama kalinya, wuiih empat lantai, dan kami sudah cukup senang tidur-tiduran di sofa lantai dua. Setengah tiga-an, balik lagi ke LTPB, bilang kalau kita mau ijin, nah sama Ibu nya disuruh bikin surat. Dini dan Nabila nyuruh aku aja yang ngurus suratnya, menghubungi pihak sekolah (dalam hal ini adek kelas, panitia PTTA) karena sementara ini diantara kami bertiga baru aku yang mbawa modem.
Aku menghubungi adek kelas, dibantu sih, tapi responya agak lambat, yah mungkin karena mereka nggak terpikir kalau kami disini bakal minta surat ijin kaya gitu, lagipula udah deket hari H pasti mereka lagi sibuk sibuknya urusan logistik, dekorasi, acara,dll.
Masalah yang paling nggak penting, adalah panitianya nyari-nyari scanner buat scan surat yang ada tanda tangan kepsek dan ketua panitianya. Please deh, tiga tahun aku di SMA kalau mau scan sesuatu tinggal ke perpus, gratis dan kualitas hasil scan juga bagus.
Mereka kirim sms jam 1:22 AM, aku agak kaget dapet sms jam segitu, ngasih tau kalau udah dikirim suratnya. Aku langsung cek email, dan mulutku komat kamit, hasil scan-an nya format JPG, dan sizenya berkisar antara 80-110 kb. Puhleeaaaseee, ini kalau di print bisa pecah pecah, nggak lucu banget. Akhirnya aku ketik bagian yang bisa diketik, dan tandatangan kepsek + ketua panitia aku crop dan tempel di surat yang aku ketik. Hasil print nya jadi nggak terlalu pecah pecah deh.
Senin nya, aku dan jemjem pagi pagi ke LTPB, ibu nya masih inget sama aku, suratnya langsung dibaca, dan setelah ngeliat surat dari sekolah (yang ada ttd kepseknya) langsung si Ibu bilang “Kapan berangkat?”, Aku jawab”Kalau diijinkan, kamis malam Bu”, hening sejenak, “Tahu diijinkanya kapan ya Bu? Saya dihubungi atau bagaimana?”, tanyaku lagi. “Udah kok, ini sudah diijinkan, asal ada surat dari sekolah diijinkan”. Wuiii, aku seneng banget, dari kemaren ketar ketir mau beli tiket, soalnya takut kalau nggak diijinin. Kakak kelas 2010 nakut nakutin, taun lalu dia nggak dapet ijin matrikulasi untuk ikut wisuda dan PTTA. Nyanyaaaa, ijin sudah di kantong, sekarang tinggal perang berebut tiket KA ke Jogja.
Sebenernya waktu aku mau nulis ini (15 juli- seminggu setelah PTTA), aku mikir beberapa kali, mau nulis tentang ini enggak ya? Karena perbedaan antara sebelum dan sesudah itu bener bener mbikin sedih, sekarang udah jadi alumni hiks.. Kalau diingetin tentang PTTA malah jadi sedih, karena itu udah berlalu.
Perjuangan belum berakhir di Padmanaba, sekarang waktunya mem-praktek-an ilmu yang sudah didapat dari Padmanaba.
Fighting!
Tschuss
Ika.